Uf, percayakah
ketika Matahari sudah menemukan alamnya sendiri
siang pun mulai enggan untuk dinamakan siang hari
Sinarnya yang kuat
sulit rasanya menyapa rerumputan yang berembun
Pucuk-pucuk daun angsana masih segar kelihatannya
karena matahari yang biasa merobek dan merenggut
zat hijau daun-nya pohon angsana, pergi
uf, Pergi
Kemanakah Sang Surya itu
Kangen rasanya dengan sinar keemasannya
meski terpaksa Aku pun berteduh
dibawah ketiak angsana yang masih menghijau
meski ranting-rantingnya yang menjolor-jolor
ke permukaan langit sudah mulai rapuh
Lantas, akan berteduh di sebelah mana
jika pohon-pohon itu di babat habis
nyaris
tidak menyisakan sedikit pun dongeng
Ya, dongeng kepahlawan atau apapun
seghingga mereka paham, jika langkahnya
panjang tak bertepi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar