Cha
Cha, apakah kamu tidak tahu. Sejak 20 tahun yang lalu. Ketika kita masih sama - sama muda. Aku mencintaimu. Tapi aku tidak pernah menyatakan perasaaanku ini. Aku pendam. aku nikmati buliran - buliran cinta itu, kadang menyejukkan, kadang menyengat perasaanku.
Cha, tentu kamu tahu perasaan cintaku padamu. Bukan salahmu memang, ketika kamu lebih memilih yang lain. Tapi nyatanya, kamu pun tidak mencintainya. Kini, dia menyesali perasaan cintanya yang tak terbalas. Kamu menceritakan padaku, kalau dia tipe manusia egois. Sok ngatur-ngatur orang lain. Sok mengekang perempuan yang dia cintai. "Piter, aku tidak menyukai dia. Tidak pernah mencintainya. Perasaan benciku aku pendam. Sampai akhirnya, ketika dia menyatakan perasaannya. Aku tolak. "Aku tidak bisa mencitaimu," tegasku padanya. Kamu tahu itu Piter.
Cha, aku masih ingat kisah cinta itu. Tepatnya cinta bertepuk disebelah tangan. Tapi, mengapa sejak awal kamu seperti memberi angin. Sehingga dia merasa yakin, bahwa kamu cinta pula dengan dirinya. Uf, tragis memang. Belakangan, kuliahnya sampai terbengkelai. Dirinya limbung, rumangsa dirinya sudah tidak ada artinya. Ya, tidak artinya, hidup tanpa kamu.
Cha, itu memang bagian dari masa lalu. Masalahnya, masa lalu itu, selalu mengikuti hingga kini. Aku, tidak sependapat denganmu dalam masalah ini. Ini bukan masa lalu. Perasaan cinta ini adalah perasaan dari masa lalu sampai masa sekarang ini. Masa ketika kamu sudah memiliki suami. Suami yang mungkin tidak pernah kamu kehendaki. Tapi, kamu pendam perasaan itu. Kamu mencoba mencintai, menerima apa yang sedang terjadi. Dan Kamu mendapat anak-anak dari lelaki itu.
Cha, kamu sendiri pernah mengeluhkan sikap suami mu. Tenyata lelaki yang telah membuahimu itu, lebih egois dari dia. Sampai kamu pernah menyatakan tidak tahan dengan keadaan seperti itu. Ah, nyatanya, pernikahanmu langgeng. Dan Cha, sekarang ini kamu kelihatan lebih semringah, pertanda kamu menikmati perjalanan hidupmu yang bahagia bersama suamimu.
Cha, seperti sambil lalu, kamu bercerita tentang keluargamu. Dan kamu membangga-banggakan suamimu, seorang yang berpendidikan tinggi dan memiliki kenalan yang sepadan. Cha, aku cemburu mendengar itu semua. Tapi, aku menyadari buat apa aku mesti mencemburui. Toh nyatanya, kamu memang bukan dan tak pernah aku miliki.
Nampaknya, memang lebih baik seperti itu. Aku tidak akan pernah mengungkapkan I love You pada kamu, Cha. Ya, never, tidak akan pernah.
Uf, ternyata aku membohongi perasaaan ku sendiri. Senyatanya, hingga detik ini, aku masih berusaha mencintaimu dan mengungkapkannya padamu. Aku, seperti terprovokasi, syair pujangga, ketika perasaan cinta mengaliri tubuhmu. Jangan ingkari dan mengalirlah jangan pernah engkau bendung. Karena tidak akan pernah mampu membendungnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar