"Hai, Kau Tetep Cantik"
Kau masih saja menyimpan keayuanmu. Rasanya aku tak percaya, ketika yang berada di depanku adalah kau. Yach, aku tidak salah melihat. Kau adalah gadis yang memiliki muka tirus dan rambut lurus sebahu, kau gadis yang cantik. Senyumanmu sebuah ketulusan yang menyejukkan siapa saja yang melihatnya. Pantas, jika dulu banyak temen cowok yang membincangkan keayuanmu. Tiara, keayuan itu masih melekat di wajahmu yang masih tirus. Padahal sudah 20 tahunan aku tidak pernah melihatmu lagi. Kini, tepat dihadapanku, seorang wanita berkerudung sederhana, barusan turun dari taksi, begitu mempesona diriku untuk mengamati dengan seksama, siapakah wanita itu? Oiii, sambil berdecak kagum. ternyata wanita itu adalah Tiara. Ya, Kau, Tiara. Teman sekelas ku dulu.
" Hai, kau masih cantik," sapaku sambil memujinya. "Hai, Tifani,tambah gemuk aja. Jadi orang sukses, Ya." Tiara membalas sapaan ku sambil menjabat tanganku sepenuh hati. Uf, penampilannya tidak berubah, slow, familier dan cool. Tiara-Tiara, wajar jika seabrek cowok berusaha mencari simpati didepanmu. Hemm, suaminya bejo kemayangan dapat Tiara. "Wis ayu, sugih and cool, man." selorok temanku yang sempat menjadi tim pemuja keayuannya si Tiara.
Gara-gara acara reuni sekolah, semua kenangan semasa SMA seperti diputar ulang lagi. Kelas-kelas yang sudah berubah catnya berkali-kali masih menyimpan kisah kasih disekolah yang sulit untuk dihilangkan begitu saja dari memory.
Ketika menginjak kembali halaman sekolah. rasanya aku menjadi muda lagi. remaja usia belasan tahun, berseragam baju putih dan bercelana biru abu-abu bersatu alakadarnya yang penting hitam. Celana cut bray rambut poni kuda dan bertaskan tas belel. Oiii, tampang seperti itu, hem kayaknya waktu oti keren abis.
cha = chasanah
BalasHapuscintaku sayangku
bukan cerita spontan
BalasHapus