tugu muda

tugu muda
klenteng

Selasa, 22 Juni 2010






"Jangan GR Ya...!"

"Jangan GR, yaaa!" Tulisan itu, begitu tegas tertulis di layar monitor handphone ku. Tulisan SMS itu, ibarat pisau yang sedang mengupas buah mangga hingga mengenai pelok.
Waw, Aku sempat shock, melihat SMS- itu. Gila, sampai begitunya dia mengatai aku. Hatiku yang terdalam seperti tidak mau menerima kenyataan.
Sejenak aku mencoba menenangkan pikiran yang berkecamuk tak karuan. "Yach, mungkin dia ada benarnya. Aku terlalu Geden Rumangsan alias G-R," ucapanku dalam hati. Okeylah kalau begitu. Aku mencoba menghubungi lewat handphone. Aku cari namanya dan aku tekan gambar gagang telepon di HP-ku. Tuuut...tuuut... Aku sedikit lega, pertanda Aku berhasil menghubungi nomor HP-nya. Tak lama kemudian, "Halo...," suaranya sangat jelas keluar dari HP-ku. Aku balas, " Ya... Aku pieter," aku berusaha menyakinkan dia bahwa yang sedang menghubungi dia adalah aku. " He eh, aku paham suara kamu. Ada kabar apa Pieter." Suara itu begitu beda dengan tulisan SMS yang baru saja aku terima dari dia.
"Ndak ada kabar apa-apa. Iseng aja. Cuman kangen sama suara kamu." Wuuu, begitu beraninya aku mengucapkan kata-kata itu. Padahal, dulu, ketika masih kuliah. Ketemu gatuk tuk, mulut ini rasanya kelu. Tak mau ngomong atau tak bisa ngomong. Ya... bagaimana mau mengutarakan isi hati. Kalau ngomong aja tidak punya nyali. Rasanya, menyesal bila teringat kelemahanku waktu itu.
Aku jadi berandai-andai. Kalau, aku punya keberanian menyatakan I love You. Aku optimis dia akan membalas pernyataan suci nan agung ini tanpa bertepuk sebelah tangan. Wuuu, seandainya terjadi..., wih wih wih, dunia kayangan akan tergoncang. Maksudku, dunia sekolahku akan tergoncang. teman-temanku mungkin ada yang shock, setengah tidak percaya. "Pieter... jodohan sama Tiara ???" mungkin komentar senada dengan kalimat itu akan keluar dari banyak mulut. Dan, pasti aku bangga dengan kenyataan itu. Uf, ah itu angan-angan saja yang tak bakal kesampaian.
"Tiara, aku dapat kabar dari teman dekat kamu. Ya, sohib kamu. Katanya, kamu diam-diam juga menaruh hati juga sama aku. itu dulu waktu masa kita di kampus. Lumrah to, kalau aku GR." aku ucapkan kalimat-kalimat itu penuh percaya diri. Dan aku mencoba meraba-raba reaksinya yang bakal aku terima.
"Piter, jangan ngacau ya... Aku tidak pernah menyatakan kata-kata itu pada siapapun. Semua aku anggap sebagai teman. termasuk hubungan baik kita dulu. Karena kamu aku anggap sebagai teman. Tidak lebih!"
"Tiara, tapi kamu sebenarnya tahu, kalau aku kesengsem sama kamu. Kamu tahu itu kan...? tukas ku mencoba melawan pembicaraannya.
"Sudahlah lupakan saja. Itu masa lalu. Tidak mungkin terulang lagi." Tiara mencoba untuk tidak memperpanjang masa lalu itu.
"Tiara, Omongan kamu barusan bisa aku terima. Tidak mungkin masa lalu akan kembali lagi. Tapi, Tiara, biar kamu tahu, aku mencintaimu," jawab ku, tegar, setegar pohon beringin yang akarnya menancap di tanah hingga berumur ratusan tahun.
"halo... Tiara," kataku memastikan, apakah dia masih di balik handphonenya.
"Ya..., Pieter,itu masa lalu. Tidak mungkin akan terjadi lagi." suaranya dari balik seberang sana, seperti tembok Cina yang sulit untuk ditembus para musuhnya.
" Tiara... yach, aku memahami. Selamat malam. Aku tetep cinta kamu." Kataku mengakhiri pembicaraan. Aku nglangut. Yach, mau berkata apalagi.

1 komentar: